Kementan Perkuat Peran Penyuluh untuk Perluas Informasi Publik 

Senin, 25 Agustus 2025 07:29 WIB

Foto : Rapat Konsolidasi Penderasan Informasi Melalui Media Sosial, Minggu (24/8/2025), secara daring. 


Agronews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Rapat Konsolidasi Penderasan Informasi Melalui Media Sosial, Minggu (24/8/2025), secara daring. 

Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat penyebaran informasi publik yang akurat dan meningkatkan kehadiran positif Kementan di ruang digital.

Rapat yang diinisiasi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) ini dihadiri oleh Tenaga Ahli Menteri Bidang Komunikasi, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Setjen Kementan, serta para penyuluh pertanian dari seluruh Indonesia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peran penyuluh dalam mewujudkan swasembada dan kedaulatan pangan. Menurutnya, penyuluh merupakan ujung tombak yang langsung bersentuhan dengan petani dan memahami kondisi riil di lapangan.

“Penyuluh adalah ujung tombak. Mereka tahu masalah petani dan menjadi agen perubahan menuju kedaulatan pangan,” kata Mentan Amran.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, juga menyoroti peran strategis penyuluh dalam mengawal implementasi kebijakan pemerintah, khususnya di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas.

“Penyuluh menjadi kunci dalam mentransformasikan sektor pertanian. Kita butuh sinergi antara kebijakan pusat dan realita lapangan,” ujar Santi.

Dalam forum tersebut, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Tedy Dirhamsyah, menjelaskan bahwa konsolidasi ini juga bertujuan untuk menangkal disinformasi yang beredar di masyarakat, khususnya terkait isu kelangkaan dan mahalnya harga beras.

Menurutnya, rumor kelangkaan beras dipicu oleh kesalahpahaman soal penyerapan oleh Bulog. Faktanya, stok beras Bulog hanya 8% dari total cadangan nasional, sementara sisanya dikuasai penggilingan dan pasar umum.

“Yang menjadi perhatian masyarakat saat ini adalah beras premium yang ditarik dalam jumlah besar, sehingga terkesan langka. Namun, beras tetap tersedia di pasar dan tidak ada antrean panjang,” ujar Tedy.

Pemerintah juga telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk melindungi kesejahteraan petani sekaligus menjaga kestabilan harga di pasar.

Dalam sesi pelatihan komunikasi digital, Kepala Biro KLI Kementan, Arief Chayono, memberikan panduan konkret bagi penyuluh untuk menangkal hoaks yang marak di media sosial.

Arief meminta penyuluh untuk tidak menyukai (like) postingan negatif, memberikan komentar positif berbasis fakta, menggunakan tagar #KamiBersamaPakMentan dan #PanenRaya, serta tidak membagikan konten menyesatkan.

“Gunakan status WhatsApp, Facebook, Instagram untuk menyebarkan narasi positif tentang pertanian. Penyuluh adalah komunikator publik yang sangat strategis,” ujarnya.

Sebagai pemantik semangat, Kementan juga meluncurkan “Challenge Konten Kreatif” bagi para penyuluh. Lima konten terbaik setiap pekan akan mendapat penghargaan. Konten dapat berupa dokumentasi panen raya, kebahagiaan petani, hasil produksi, atau pembelian gabah oleh Bulog.

Arief juga mengajak penyuluh meneladani etos kerja Menteri Pertanian Amran Sulaiman, yang dinilai bekerja tanpa lelah demi petani.

“Pak Mentan bahkan memikirkan distribusi subsidi saat berada di penerbangan. Semangat ini harus kita viralkan bersama,” tutup Arief.(*)

98

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.