Siapkan Data Akurat dan Tepat Sasaran, Kementan Lakukan Percepatan Verifikasi CPCL Menggunakan Poligon

Jumat, 29 Mei 2026 07:29 WIB

Foto: Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 16 pada Jumat (29/05/2026).


Agronews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 16 pada Jumat (29/05/2026). Mengusung tema “Poligon, Metode Cerdas untuk Penentuan CPCL (Calon Petani Calon Lahan) yang Presisi.” Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube @pusluhtanri, serta diikuti oleh penyuluh pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan program pembangunan pertanian harus ditopang oleh data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Data adalah fondasi utama dalam setiap pengambilan kebijakan. Bantuan pemerintah harus tepat sasaran, tepat lokasi, dan tepat penerima. Karena itu, transformasi digital dan penguatan data pertanian menjadi langkah penting dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan," tegas Amran

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa kualitas data CPCL menjadi faktor penting dalam memastikan seluruh program dan bantuan pemerintah dapat diterima oleh sasaran yang tepat.

"Penyuluh memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pengumpulan dan validasi data di lapangan. Data CPCL yang akurat, lengkap, dan sesuai kondisi riil akan menentukan keberhasilan pelaksanaan program Kementerian Pertanian serta meminimalkan potensi kesalahan dalam penyaluran bantuan pemerintah," ujar Idha

Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi spasial dan digitalisasi data CPCL merupakan bagian dari upaya mewujudkan tata kelola bantuan pemerintah yang lebih transparan dan akuntabel. “

Saat ini penyuluh tidak hanya mendampingi petani dalam budidaya, tetapi juga berperan sebagai pengawal kualitas data pertanian. Penguasaan teknologi pemetaan dan digitasi lahan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari agar data CPCL benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan,” ungkap Eko.

Menurut narasumber, Pranata Komputer Ahli Pertama dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Frilla Ariani menjelaskan bahwa selama ini masih ditemukan berbagai kendala dalam pengelolaan data CPCL, seperti tumpang tindih lahan penerima bantuan, perbedaan luasan lahan antara dokumen dan kondisi riil di lapangan, hingga potensi temuan saat proses audit. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pertanian mendorong penggunaan metode poligon sebagai standar baru dalam pendataan lahan.

Menurut Frilla, data spasial merupakan data yang memiliki referensi posisi geografis tertentu dan dapat direpresentasikan melalui koordinat. Dalam data spasial terdapat beberapa bentuk representasi, yaitu titik (point), garis (line/polyline), dan area (polygon). Khusus untuk penentuan CPCL, penggunaan polygon menjadi sangat penting karena mampu menggambarkan batas lahan secara utuh sehingga luas area dapat dihitung secara otomatis dan lebih akurat.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa penggunaan polygon memiliki berbagai keunggulan, antara lain meningkatkan akurasi data lahan, mempermudah proses verifikasi dan validasi, mengurangi potensi tumpang tindih lahan, mendukung transparansi dalam proses audit, serta membantu pengambilan keputusan berbasis data.

Frilla juga menyampaikan bahwa penerapan polygon dalam penentuan CPCL telah diperkuat melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Bantuan Pemerintah Lingkup Kementerian Pertanian, yang mewajibkan seluruh proses usulan CPCL dilakukan secara digital melalui aplikasi Ibanper.

Untuk memberikan pemahaman yang lebih aplikatif kepada peserta, Frilla turut mempraktikkan secara langsung proses digitasi polygon melalui aplikasi Ibanper. Pada kesempatan tersebut, peserta diperlihatkan tahapan menggambar batas lahan, melakukan pengeditan polygon, menghitung luasan lahan secara otomatis, hingga mengunggah data spasial dalam format Shapefile (SHP) ke dalam sistem.

Selain menggunakan aplikasi Ibanper, narasumber juga memperkenalkan beberapa aplikasi pendukung yang dapat digunakan untuk pemetaan lahan, seperti Google Earth, QGIS, QField, SW Maps, dan GIS Data Collector. Hasil pemetaan dari aplikasi tersebut dapat dikonversi ke format Shapefile untuk kemudian diunggah ke sistem Ebanper.

MSPP Volume 16 ini, diharapkan para penyuluh semakin memahami pentingnya pemanfaatan teknologi spasial dalam pengelolaan data CPCL. Penggunaan polygon tidak hanya meningkatkan akurasi data, tetapi juga mendukung tata kelola bantuan pemerintah. (RS)

10

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.