Foto: Antisipasi WBC Meluas, Kementan Giatkan Gerdal di DIY
Agronews.id, Jakarta - Menyikapi laporan serangan Wereng Batang Cokelat (WBC) di beberapa wilayah, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Tanaman Pangan, yaitu Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan dan Balai Besar Peramalan OPT mengupayakan berbagai strategi pengendalian agar serangan WBC tidak meluas. Salah satu wilayah yang pontesial mengalami peningkatan populasi WBC adalah Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Tim Kementan mengintensifkan monitoring, bimbingan teknis dan gerakan pengendalian. Bekerja sama dengan Tim Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) DI Yogyakarta, monitoring sudah dilakukan di 3 Kecamatan di Kulon Progo yaitu Panjatan, Nanggulan, dan Girimulyo (22/4).
Ditemui langsung dilapangan, Petugas Pengendali OPT (POPT) Kec. Panjatan Khanti Dwi Jayanti membenarkan terjadinya serangan WBC di wilayah pengamatannya. “Populasi WBC memang sedang meningkat di Panjatan. Saat monitoring kami juga menemukan beberapa serangan cukup tinggi. Fokus kami saat ini terus melakukan pengendalian secara berkala terutama di area sumber serangan. Hari ini kami sudah melakukan gerdal seluas 53 Ha di Desa Bugel,” ungkap Khanti.
Supardi, Koordinator POPT Kab. Kulonprogo menyatakan bahwa petugas lapangan dan petani setempat akan terus melakukan gerakan pengendalian hingga populasi WBC menurun. “Karena populasi WBC masih cukup tinggi di lapangan, kami sudah minta POPT dan petani untuk gencar melakukan gerdal agar tidak meluas dan tanaman dapat diamankan hingga panen. Pelaksanaan gerdal juga akan kami evaluasi terus hasilnya,” tutur Supardi.
Kepala BPTP DI Yogyakarta, Suharto Budiono mengungkapkan bahwa menurunkan populasi WBC menjadi prioritas saat ini. “Pengendalian yang massif dan serentak menjadi prioritas kami saat ini. Agar serangan WBC ini tidak berulang, kami dan tim akan melakukan pemetaan wilayah endemis WBC di Kulonprogo. Harapannya deteksi serangan WBC di lapangan tidak terlambat dan tanaman bisa tumbuh sehat,” imbuh Suharto.
Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Rachmat menjelaskan bahwa pengamatan rutin merupakan salah satu upaya penting untuk meminimalisir kejadian ledakan hama. “Kita di Perlindungan ini bukan tim pemadam kebakaran, ketika ada serangan baru kita kelabakan. Supaya hal yang tidak diinginkan terhindar, Saya harap teman-teman di lapangan rutinkan pengamatan agar keberadaan OPT di lapangan bisa dideteksi sedini mungkin,” jelas Rachmat.
Selaras, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi kembali menegaskan bahwa tugas pengendalian OPT merupakan tanggung jawab bersama.”Selain melakukan pengamatan rutin, semua pihak baik pemerintah pusat dan daerah harus komitmen menjaga pertanaman dari serangan hama dan penyakit. Utamakan pengendalian preemtif, petakan wilayah serangannya, dan mobilisasi sarana pengendaliannya supaya pertanaman kita tetap aman,” pungkas Suwandi.
Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menginstruksikan kepada seluruh jajarannya agar terus membersamai petani Indonesia dalam mengamankan pertanaman hingga panen. Harapannya petani sejahtera dan hasil panen melimpah.
356
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.