Foto: Agung saat memimpin rapat koordinasi stabilisasi harga dan pasokan telur ayam ras di Kantor Kementan Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Agronews.id, Jakarta – Pemerintah bergerak cepat menjaga peternak ayam petelur rakyat di tengah fluktuasi harga telur di sejumlah sentra produksi nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Gizi Nasional (BGN), asosiasi peternak, hingga pelaku usaha langsung melakukan konsolidasi nasional untuk mengembalikan harga telur menuju level yang melindungi peternak sekaligus menjaga keterjangkauan pangan masyarakat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan pemerintah tidak tinggal diam melihat harga telur di tingkat peternak turun di bawah harga acuan pemerintah.
“Tujuan rapat hari ini membahas beberapa hal khususnya terkait stabilisasi harga telur di tingkat peternak, yang belakangan ini harganya memang agak sedikit turun di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah,” ujar Agung saat memimpin rapat koordinasi stabilisasi harga dan pasokan telur ayam ras di Kantor Kementan Jakarta, Selasa (12/5/2026)
Menurut Agung, koperasi dan asosiasi peternak telah sepakat menjaga harga telur agar kembali mendekati harga acuan pemerintah di tingkat produsen sebesar Rp26.500 per kilogram.
“Teman-teman koperasi dan asosiasi sepakat menjaga agar harga ini menuju pada harga acuan tingkat produsen atau on farm yang telah ditetapkan Bapanas yaitu Rp26.500 per kilogram,” katanya.
Agung menegaskan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman telah memberikan instruksi langsung agar langkah koreksi harga segera dilakukan.
“Menteri Pertanian selaku Kepala Badan Pangan Nasional, memerintah kepada kami untuk melakukan segera tindakan koreksi. Besok kami meminta agar harga di tingkat peternak itu sudah naik menuju harga acuan. Tentu Satgas Pangan, Satgas Stabilisasi Harga juga melakukan pemantauan,” tegas Agung.
Pemerintah menilai produksi telur nasional saat ini dalam kondisi kuat. Produksi tahun 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 7,3 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 6,4 juta ton.
Menurut Agung, peningkatan produksi dipicu meningkatnya investasi peternakan ayam petelur dan semakin besarnya kebutuhan pangan masyarakat, termasuk untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kenaikan ketersediaan telur year-on-year cukup tinggi, sekitar 30 persen karena ada minat peternak-peternak baru akibat program MBG,” ujarnya.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah segera mengeluarkan langkah konkret untuk menjaga harga telur di tingkat peternak.
“Kami akan mengeluarkan edaran pembelian harga telur di tingkat produsen dan itu harus dipatuhi,” ujar Ketut Astawa.
Pemerintah juga memperkuat pengawasan rantai distribusi agar harga di tingkat peternak tidak terus tertekan. “Middleman ini harus kita tata agar tidak berulang kondisi seperti ini,” katanya.
Selain itu, pemerintah terus memperkuat dukungan melalui penyaluran jagung pakan dan pengawasan lapangan bersama Satgas Pangan.
Di sisi lain, BGN memastikan program Makan Bergizi Gratis menjadi instrumen nyata untuk menyerap produksi telur peternak rakyat.
Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN Brigjen (Purn) Suardi Samiran menegaskan setiap dapur MBG wajib menyerap telur dari peternak sekitar.
“Setiap SPPG wajib menyerap telur dari peternak di sekitarnya. Selain terkait kebutuhan gizi, kebijakan ini guna meningkatkan ekonomi daerah,” kata Suardi.
Pelaku usaha dan asosiasi peternak menyambut baik langkah cepat pemerintah. Ketua Umum Gabungan Organisasi Perunggasan Nasional (GOPAN), Herry Dermawan, mengatakan harga telur saat ini tidak mencerminkan kondisi pasar sebenarnya. “Harga hari ini bukan harga asli. Harga telur sangat sensitif terhadap isu,” ujar Herry.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional (PLN), Musbar Mesdi, berharap penyerapan telur melalui program MBG terus diperkuat. “Kami berharap penyerapan telur oleh MBG ditingkatkan karena sekarang ini masih sedikit. Selain itu, ke depannya harga telur jangan di bawah Rp25.000,” ujarnya.
Kementerian Pertanian menegaskan stabilisasi harga telur akan terus dikawal melalui penguatan distribusi, penyerapan pasar, hilirisasi, dan perlindungan peternak rakyat agar subsektor perunggasan nasional tetap kuat dan berdaya saing. (*)
19
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.