Foto: Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 14, Jumat (08/05/2026).
Agronews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 14, Jumat (08/05/2026). Mengusung tema “Jurus Jitu Menghadapi Perubahan Iklim dan Antisipasi El Nino 2026”. Kegiatan digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube @pusluhtanri, serta diikuti oleh penyuluh pertanian seluruh Indonesia
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa perubahan iklim harus diantisipasi melalui langkah cepat dan terukur agar tidak mengganggu ketahanan pangan nasional.
“Kita harus memperkuat mitigasi sejak dini melalui pengelolaan air, pompanisasi, percepatan tanam, dan langkah adaptasi lainnya agar produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah ancaman cuaca ekstrem,” tegas Mentan.
Sementara itu Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa penyuluh memiliki peran penting dalam membantu petani menghadapi dampak perubahan iklim. “Penyuluh harus menjadi sumber informasi dan pendamping utama petani dalam memahami kondisi iklim, sehingga langkah budidaya yang dilakukan dapat lebih tepat dan adaptif,” ujarnya.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih panjang dibanding kondisi normal. Ia menyampaikan bahwa penyuluh bersama petani perlu melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, pengaturan pola tanam, serta pengelolaan sumber air secara optimal untuk menekan risiko gagal panen.
MSPP menghadirkan narasumber utama, Ketua Pokja Analisis Perubahan Iklim, Kadarsah yang memaparkan kondisi perubahan iklim global dan nasional serta potensi dampaknya terhadap sektor pertanian Indonesia.
Kadarsah menjelaskan bahwa suhu global terus mengalami peningkatan akibat aktivitas manusia yang memicu kenaikan gas rumah kaca. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas secara global dengan kenaikan suhu melampaui 1,55°C. Sementara di Indonesia, suhu udara meningkat sekitar 0,02°C per tahun atau sekitar 1,04°C dalam 45 tahun terakhir.
Perubahan iklim tersebut berdampak pada perubahan pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, hingga meningkatnya bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan kekeringan. BMKG mencatat lebih dari 98% bencana di Indonesia berkaitan dengan faktor hidrometeorologi yang dipengaruhi perubahan iklim.
Selain itu, fenomena El Nino dan La Nina kini terjadi lebih sering dibandingkan periode sebelumnya. Jika dahulu terjadi setiap 5–7 tahun sekali, saat ini siklusnya menjadi sekitar 2–3 tahun sekali. BMKG memprediksi fenomena El Nino mulai berkembang pada Mei hingga Juli 2026 dengan kategori lemah hingga moderat.
Penyuluh perlu aktif membantu petani dalam memahami informasi iklim dan menyesuaikan langkah budidaya sesuai kondisi wilayah masing-masing. Informasi cuaca dan iklim yang akurat dinilai sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan.
BMKG juga mengimbau agar penyuluh dan petani secara rutin memantau perkembangan cuaca dan iklim melalui website bmkg.go.id. Namun demikian, informasi tersebut tetap perlu diverifikasi dan dikoordinasikan dengan kantor BMKG di masing-masing daerah agar data yang digunakan lebih spesifik dan sesuai dengan kondisi lokal setempat.
Melalui kegiatan MSPP ini, Kementerian Pertanian berharap penyuluh dan petani semakin siap menghadapi tantangan perubahan iklim serta mampu menerapkan langkah adaptasi dan mitigasi secara tepat demi menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. (RS)
11
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.