Integrated Farming, Agroekosistem yang Tingkatkan Produksi Pertanian juga Lestarikan Alam

Selasa, 02 Juli 2024 15:19 WIB

Foto : Kementerian Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan terus mendukung produksi pertanian nasional.


Agronews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan terus mendukung produksi pertanian nasional. Diantaranya dengan menggencarkan sosialisasi mengenai cara dan teknologi terbaru pada pelaku pertanian untuk mencapai target tersebut.

Salah satunya menyosialisasikan sistem pertanian yang efektif dan efisien, yakni integrated farming.

Diketahui, integrated farming merupakan sistem pertanian dengan memanfaatkan keterkaitan antara tanaman perkebunan, pangan dan hortikultura.

Selain itu, memanfaatkan kaitan juga dengan sektor ternak dan perikanan. Tujuannya untuk mendapatkan agroekosistem yang mendukung produksi pertanian, peningkatan ekonomi, dan pelestarian sumberdaya alam.

Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan, langkah ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

"Integrated farming ini salah satu cara yang paling efektif dan efisien, karena kita manfaatkan keterkaitan antar sektor. Demi meningkatan kuantitas dan kualitas produksi pertanian," kata dia, belum lama ini.

Salah satu bentuk integrated farming, sambung Suwandi adalah penggunaan elisitor biosaka. Manfaatnya tak main-main, diantaranya membuat tanah makin subur.

"Contoh yang di Blitar, ada lahan kering yang cuma setahun sekali tanam. Sekarang subur, bisa 3 kali tanam, karena 2-3 tahun pakai ini," tuturnya.

"Ke dua, hama berkurang sama sekali. Ketiga, hemat pupuk kimia, 30-70 persen. Lalu, ya produksi terjaga," imbuh dia.

Pembuatan inovasi ini, kata Suwandi, dibuat menggunakan bahan alami dengan tangan serta tidak bisa pakai mesin.

Pihaknya pun akan memberikan edukasi kepada para petani yang ingin menggunakan cara ini untuk meningkatkan produksi pertanian.

"Ini tidak dijual belikan, bebas petani bikin sendiri, tidak ada petani yang ngeluh gagal, malah lebih semangat," kata dia.

Ia mencontohkan, untuk elisitor biosaka jilid 1 ada varian 5 level. Petani bisa menggunakan bahan rumput bebas apa saja dengan daun ukuran seimbang. Minimal 5 jenis dengan ukuran segenggam tangan.

"Bisa daun mangga, daun pisang, lalu ember 5 liter dengan air. Ada interaksi tangan dan bahan," ujarnya.

Ia mengakui penggunaan inovasi ini banyak menyisakan misteri sehingga lekat dengan hal yang non ilmiah.

"Misalnya, kita aplikasi ke produk impor itu nggak jadi, ketika disemprotkan ke pangan lokal, ini langsung kuat. Yang pasti ini ilmiah dan bisa diaplikasikan karena banyak manfaatnya," pungkas Suwandi.

279

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.