Foto : Buku ini diterbitkan oleh ASEAN Writers Network, sebuah platform di bawah Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia. Buku ini terbit pada Desember 2023.
Agronews.id, Jakarta – Disrupsi rantai pasok pangan global akibat pandemi, perubahan iklim seperti El Nino, hingga konflik di dalam negara atau antarnegara merupakan serangkaian dinamika yang berdampak pada kondisi ketahanan pangan negara maupun di kawasan ASEAN. Oleh karena itu, perlu penguatan kerangka kerja sama sebagai bagian dari solidaritas antara negara-negara di kawasan ASEAN dalam menjaga ketahanan pangan. Salah satunya melalui penguatan cadangan pangan regional.
Urgensi penguatan cadangan pangan regional dijabarkan oleh Munawar Khalil N dalam tulisannya dalam buku “ASEAN Episentrum Pertumbuhan Dunia: Gagasan Konstruktif Masyarakat Indonesia" yang diterbitkan oleh ASEAN Writers Network, sebuah platform di bawah Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia. Buku ini terbit pada Desember 2023.
Munawar yang bekerja di Badan Pangan Nasional mengungkapkan, buku ini merupakan wujud perhatian dan optimisme masyarakat Indonesia sebagai warga ASEAN dalam mewujudkan sebuah kawasan yang damai, stabil, dan terus bertumbuh menjadi epicentrum of growth.
Ia juga mengatakan bahwa keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 menjadi momentum yang penting dan strategis untuk membangun solidaritas antarnegara ASEAN.
"Melalui APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) merupakan salah satu komitmen bersama untuk menjaga ketahanan pangan di kawasan ASEAN, peran Indonesia dalam keketuaan ASEAN 2023 sangat penting untuk menjawab tantangan dan implementasi kerangka kerja sama yang efektif melalui mekanisme tersebut." ujarnya.
Ia meyakini dengan cadangan pangan regional yang lebih kuat akan berkontribusi terhadap penciptaan lingkungan ekonomi yang berkelanjutan di kawasan yang lebih stabil karena berfokus pada penguatan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan dan pemberantasan kekurangan gizi.
Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) Guntur S Mahardika dalam tulisannya “Ketahanan Pangan ASEAN di Tengah Krisis Global” di buku tersebut menekankan peran Indonesia sangat dibutuhkan karena memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, sumber daya alam yang besar, serta sumber daya manusianya. Karena itu, dalam tulisannya Guntur berharap Indonesia seharusnya paling siap menghadapi tantangan krisis pangan ke depan.
Senada, anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) Senja Maghfirah dalam artikelnya berjudul “Krisis Bahan Pangan di Tahun 2045 Mendatang” menyoroti potensi dan keragaman pangan lokal yang dimiliki Indonesia sebagai peluang untuk berkontribusi terhadap pemenuhan pangan regional. Ia mencontohkan, selain beras, ubi kayu juga menjadi salah satu komoditas pangan yang penting untuk dikembangkan.
Sementara itu, Ketua Pusat Studi Lingkungan Universitas Wisnuwardhana Malang, Eny Dyah Yuniwati menulis artikel Land Husbandry Pertanian: Teknologi Biochar untuk Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Ramah Lingkungan di ASEAN. Ia mengungkap teknologi biochar mampu meningkatkan kualitas tanah, mengurangi limbah dan menghasilkan energi sebagai produk sampingan. Menurutnya, penggunaan teknolgi biochar dapat menjaga prinsip pertanian berkelanjutan yaitu keberlanjutan produktivitas, kualitas lingkungan, efisiensi pemanfaatan sumberdaya tidak terbarukan, kelayakan ekonomis, dan kualitas kehidupan.
Peneliti BBSDLP Kementerian Pertanian Lady Hafiday Rahma Kautsar dalam artikelnya Adaptasi Pertanian Beberapa Negara ASEAN dalam Menghadapi Perubahan Iklim menegaskan bahwa karakteristik iklim di kawasan negara-negara ASEAN relatif sama yaitu iklim tropis. Oleh karena itu, perlu strategi bersama dalam mengantisipasi, mitigasi, dan adaptasi perubahan iklim khususnya terhadap sektor pertanian. Hal ini dinilainya penting karena pertanian menjadi ujung tombak kebutuhan primer manusia yaitu pangan. “Kolaborasi dalam adaptasi serta inovasi teknologi akan menjadi kekuatan besar bagi ASEAN dalam menghadapi perubahan iklim serta tantangan global.” tulisnya.
Adapun Buku "ASEAN Episentrum Pertumbuhan Dunia: Gagasan Konstruktif Masyarakat Indonesia" merupakan kolaborasi dari 239 masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dari berbagai latar belakang.
"Buku 960 halaman tersebut dibuat dengan semangat kontribusi gagasan masyarakat Indonesia terhadap event internasional chairmanship Indonesia pada ASEAN 2023," kata inisiator dan editor buku Yanuardi Syukur.
Buku tersebut terdiri dari 23 bab dengan tema yang beragam dalam tiga pilar ASEAN yakni politik-keamanan, ekonomi, dan sosial-budaya. "Buku ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia kaya akan gagasan terkait suatu topik internasional dari berbagai sudut yang mereka kuasai," ungkap Yanuardi.
Dia berharap agar buku ASEAN ini dapat menjadi salah satu bacaan dan batu loncatan (stepping stone) bagi terbitnya buku-buku lainnya dari masyarakat Indonesia dalam mengeksplorasi tema-tema internasional kontemporer.
Sebelumnya, dalam rangka menyukseskan presidensi G20, Rumah Produktif Indonesia juga telah menerbitkan buku "Pulih Bersama Bangkit Perkasa: Gagasan optimis dari Indonesia untuk kebangkitan dunia pasca Covid-19". Buku tersebut ditulis oleh 154 penulis yang diterbitkan Perpusnas Press dalam bahasa Indonesia dan Inggris dan diluncurkan di Perpusnas RI, Jakarta.
158
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.