Foto : Ilustrasi Lada.
Agronews.id, Jakarta - International Pepper Community (IPC) menggelar perayaan Hari Lada Internasional 2023 di Jakarta yang dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Djatmiko Bris Witjaksono.
Djatmiko menyebut, gelaran Peringatan Hari Lada itu merupakan bentuk dukungan Pemerintah Indonesia terhadap program pengembangan sektor lada.
"Hari Lada Internasional dimaksudkan sebagai kegiatan mempromosikan konsumsi lada global untuk membantu jutaan petani yang ekonominya bergantung pada lada dan meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan akan pentingnya berbagai isu sektor lada,” kata Djatmiko dikutip dari neraca.co.id, Selasa 18 April 2023.
Ia menyebut, perayaan Hari Lada Internasional itu salah satunya bertujuan untuk mengurangi kesenjangan antara pasokan dan permintaan lada di seluruh dunia. Sebab, kata dia, Lada merupakan komoditas yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.
Pasalnya, Indonesia sudah menjadi pemasok komoditas Lada untuk dunia sejak abad ke-16 silam. Komoditas Lada ini juga disebut menjadi salah satu penyumbang devisa negara terbesar untuk Indonesia.
Data teranyar dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor lada periode 2018 hingga 2022 sudah menembus USD 775 juta dengan volume perdagangan rata-rata mencapai 45 ribu ton.
Sebagai negara dengan perkebunan lada terbesar ketiga di dunia, Indonesia perlu menggenjot pengembangan lada untuk kembali menjadi pemain utama di kancah internasional.
Seba, Djatmiko menyatakan bahwa lada Indonesia dengan mutunya yang tinggi dikenal sebagai produk kelas atas dibandingkan produk negara produsen lainnya. Sehingga, manfaat ini harus dipromosikan dan dipertahankan secara nasional dan internasional melalui budidaya lada dan teknik pengolahan lada yang sesuai dengan praktik pertanian yang baik.
“Lada Indonesia memiliki kandungan piperin yang tinggi hingga sepuluh persendan rasa yang tajam. Beberapa lada Indonesia juga telah mempunyaisertifikat Indikasi Geografis seperti lada putih Muntok; lada hitam Lampung; lada Luwu Timur; dan lada malonan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Indonesia juga memiliki beragam varietas tanaman lada unggulan hingga sepuluhjenis,” ujar Djatmiko.
Oleh karenanya, untuk mendukung pengembangan industri lada Indonesia, salah satu program utama pemerintah adalah meningkatkan produksi lada bernilai tambah tinggi.
“Inovasi adalah kunci terpenting untuk menciptakan produk lada yang bernilai tambah. Kami berharap dapat mencapai target harga lada yang remuneratif melalui produk lada yang bernilai tambah,” tutup Djatmiko. (Egi)
24
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.