Foto : Semaian benih bawang merah TSS menggunakan media Soil block
Agronews.id - Umumnya bawang merah diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan umbi sebagai benih. Benih berupa umbi mempunyai kelemahan, yaitu tidak tahan simpan sehingga setelah musim tanam off-season atau musim hujan, penyediaan benih untuk musim berikutnya menjadi terbatas. Salah satu alternatif teknologi yang potensial untuk dikembangkan dalam upaya mengatasi perbenihan bawang merah di Indonesia adalah dengan penggunaan biji bawang merah/ True Shallot Seed (TSS)
Kelebihan TSS adalah meningkatkan hasil umbi bawang merah, bebas dari penyakit dan virus, kebutuhan benih TSS bawang merah lebih sedikit (2-3 kg/ha) dibandingkan dengan benih umbi (sekitar 1-1,2 ton/ha) pengangkutan yang lebih mudah, dan daya simpan lebih lama dibanding umbi.
Penggunaan TSS untuk produksi umbi bibit ataupun umbi konsumsi belum banyak dilakukan oleh petani bawang merah di Indonesia. Penyebabnya antara lain ketersediaan TSS masih terbatas dan belum ditemukannya teknologi penyemaian dan pembudidayaan bawang merah dari TSS yang efisien.
Namun saat ini sudah di coba penyemaian benih bawang merah TSS menggunakan teknologi soil block dan hasilnya maksimal dan efisien. Soil block merupakan sebuah alat semai yang ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah organik yang sangat berguna tanpa merusak lingkungan.
Alat ini dikembangkan Eka Mardiyono, pelaku usaha soil block dari Jawa Tengah. “Semua bahan penyusun soil block ini merupakan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman tanpa penambahan tanah,” katanya.
Menurutnya, bahan yang diperlukan untuk menyusun soil block ini terdiri dari pupuk kandang, fosfat alam, kapur dolomit, cocopeat dan gambut dengan perbandingan 30:5:5:30:30. Seluruh bahan tersebut kemudian dicampur dengan air hingga diperoleh kepadatan yang sesuai. “Selain itu, dapat ditambahkan sedimentasi rawa yang kaya akan unsur hara yang baik untuk tanaman,” ujarnya.
Cara penggunaan soil block juga cukup mudah. Setelah bahan-bahan penyusun soil block dicampur, kemudian dimasukkan ke alat bantu/cetakan soil block dan ditekan hingga padat. Selanjutnya letakkan alat soil block di atas nampan kayu dengan cara membaliknya, kemudian tekan 2-3 kali secara berulang alat pegas agar media tercetak dengan baik.
Selain ramah lingkungan, menurut Eka, penggunaan soil block juga dapat meningkatan efisiensi biaya tenaga kerja pada proses persemaian. Jika dengan proses penyemaian pada umumnya, diperlukan waktu 1 hari tenaga kerja hanya dapat mencetak 1.000 polybag, tapi dengan alat ini bisa diperoleh 20.000-30.000 media semai.
“Apalagi tidak membutuhkan plastik polybag atau plastik tray, tentunya biaya yang dikeluarkan oleh petani juga berkurang," katanya. Bahkan lanjut Eka, perawatan saat penyemaian dengan soil block pun dapat lebih mudah.
Menurutnya, cukup disiram sacara merata dengan metode sebar atau sprayer tanpa takut air tertinggal di plastik. Hal ini berlaku saat pemberian pupuk, karena soil block bersifat absorb (menyerap), sehingga pupuk juga tidak akan jatuh ke bawah tetapi terserap ke dalam soilblock.
“Penggunaan soil block dibarengi dengan pemilihan varietas yang adaptif cuaca merupakan kombinasi yang sempurna sebagai langkah awal meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil,” tutur Eka.
Kontributor : Ircham Riyadi
932
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.