Indonesia Outlook 2022 : Membaca Lanskap Politik Indonesia 2024

Senin, 31 Januari 2022 14:28 WIB

Foto : Tahun 2022 adalah awal momentum tahun politik dimana kehadiran Trust Indonesia Research & Consulting sebagai lembaga survei dan konsultan politik.


Agronews.id - Trust Indonesia Research & Consulting adalah sebuah Lembaga Survei Nasional yang baru saja didirikan diakhir tahun 2021 dan akan menjadi bagian dari pembangunan tatanan demokrasi dan pencerdasan politik Indonesia dengan mengusung arsitektur strategi pembangunan demokrasi berkelanjutan. Lembaga ini telah resmi berbadan hukum, serta terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM RI. Tahun 2022 adalah awal momentum tahun politik dimana kehadiran Trust Indonesia Research & Consulting sebagai lembaga survei dan konsultan politik, menjadi sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.

Oleh karena itu dalam launching lembaga Trust Indonesia Research & Consulting kami 
melakukan Survei Nasional pada tanggal 3-12 Januari 2022 secara offline (tatap muka). 
Jumlah responden dalam survei ini sebanyak 1200 responden yang diambil secara 
proporsional berimbang (50:50) laki-laki dan perempuan berdasarkan basis tempat 
pemungutan suara (TPS) by name, by address. Populasi survei ini adalah Warga Negara 
Indonesia (WNI) yang berdomisili di 34 Provinsi dan telah mempunyai hak pilih, yaitu berusia 
17 tahun keatas (memiliki KTP setempat) atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Pengambilan sampel menggunakan metode multistage sampling dengan toleransi kesalahan 
(margin of error) sebesar ± 2,83% pada tingkat kepercayaan 95%.

Adapun beberapa catatan kritis dari hasil survei yang dilakukan oleh Trust Indonesia Research 
& Consulting mencakup isu publik dan civil society, partai politik, serta elektabilitas 
Capres/Cawapres adalah sebagai berikut:

  1. Kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo cukup tinggi, dimana sebesar 70,1% 
    masyarakat puas dengan kepemimpinan Joko Widodo. Namun demikian, kepuasan yang 
    tinggi kepada Presiden Joko Widodo nampaknya tidak berbanding lurus dengan Wakil 
    Presiden Ma'ruf Amin.
  2. Kepuasan publik terhadap Wakil Presiden Ma'ruf Amin hanya sebesar 53,8%. Hal ini dapat artikan bahwa, publik melihat ada gap atau disparitas kinerja pada pemerintahan 
    Presiden Jokowi - Wakil Presiden Ma'ruf Amin.
  3. Berdasarkan hasil survei, besar harapan publik terhadap Nahdlatul Ulama agar lebih 
    independen dan tidak terlibat politik praktis. Publik juga berharap kepada Nahdlatul 
    Ulama agar melakukan koreksi terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.       
  4. Survei ini juga menunjukkan fakta bahwa mayoritas responden menghendaki peran 
    utama Nahdlatul Ulama dalam kehidupan berbangsa/bernegara yang perlu terus 
    didukung antara lain: "melawan radikalisme, fundamentalisme dan terorisme, 
    membangun gerakan dakwah untuk menarik muslim millenial, serta memberdayakan 
    ekonomi umat islam diakar rumput".
  5. Berdasarkan hasil survei, partai tiga besar (partai papan atas) masih belum bergeser yaitu 
    PDIP, Partai Gerindra dan Partai Golkar. Ini menunjukkan bahwa partai papan atas 
    memiliki basis tradisional yang loyal dan jaringan akar rumput (grassroots) yang kuat.
  6. Sementara itu pada partai menengah terjadi pergeseran, bahkan partai politik yang saat 
    ini memiliki kursi di Senayan tingkat elektabilitasnya dibawah parliamentary threshold
    yakni Partai Nasdem, PAN dan PPP.
  7. Ketokohan didalam partai politik tidak berbanding lurus dengan elektabilitas (top of 
    mind). Artinya, jabatan strategis didalam partai politik tidak menjadi jaminan bahwa 
    petinggi partai politik tersebut akan memiliki elektabilitas (top of mind) yang lebih tinggi 
    dibandingkan dengan kader biasa.
  8. Misalnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, masih kalah elektabilitasnya (top of mind) dibandingkan dengan Dedi Mulyadi. Selain itu juga di PDI Perjuangan, Ketua DPP PDIP Puan Maharani masih kalah jauh elektabilitasnya (top of mind) dengan Ganjar 
    Pranowo.
  9. Faktor figuritas masih menjadi dominasi utama yang menjadi alasan masyarakat dalam 
    memilih partai politik. Sebagaimana temuan survei, dimana alasan: "pengaruh tokoh 
    masyarakat, figur caleg, figur ketua partai politik dan kedekatan dengan tokoh partai 
    politik masih menjadi alasan utama masyarakat dalam memilih partai politik tertentu".
  10. Sebaliknya pemilih rasional masih terbatas yang beralasan dalam memilih partai politik 
    karena setuju dengan: "ide & gagasan, memiliki ideologi Pancasila, visi - misi dan program 
    partai, serta ideologi partai".
  11. Berdasarkan hasil survei, Prabowo Subianto memiliki elektabilitas tertinggi sebagai Calon 
    Presiden 2024. Namun, belum aman karena elektabilitas masih kurang dari 30% dengan 
    strong voters (pemilih loyalis) Prabowo Subianto yang masih rendah (15,0%).
  12. Pasangan Prabowo Subianto - Puan Maharani dapat meraih elektabilitas tertinggi dan 
    hanya bisa dikalahkan bila calon lawannya "lompat pagar": "Ganjar Pranowo keluar dari 
    PDIP berpasangan dengan Anies Baswedan" atau "Sandiaga Uno keluar dari Partai 
    Gerindra berpasangan dengan Anies Baswedan".
  13. Apabila Prabowo Subianto tidak maju pada Pilpres 2024, maka Anies Baswedan yang 
    berpeluang paling besar memenangkan Pilpres 2024 sekalipun head to head dengan 
    Ganjar Pranowo.                                                                                                                       
  14. Jika Anies Baswedan berpasangan dengan Ganjar Pranowo maka peluang kedua kandidat 
    ini memenangkan Pilpres 2024 cukup besar, bahkan jika head to head dengan siapapun 
    pasangan Calon Presidennya.
  15. Berdasarkan simulasi kombinasi pasangan Capres - Cawapres (TNI/Polri - Sipil atau Sipil -
    TNI/Polri), Agus Harimurti Yudhoyono memiliki peluang besar jika berpasangan dengan 
    Anies Baswedan (Anies Baswedan - Agus Harimurti Yudhoyono), bahkan bisa mengungguli pasangan TNI/Polri - Sipil lainnya yaitu Prabowo Subianto - Puan Maharani.
  16. Penentuan kriteria calon Wakil Presiden harus hati-hati dilakukan karena sangat 
    menentukan strategi kemenangan. Sekalipun Prabowo Subianto memiliki eletabilitas 
    tertinggi, namun jika salah memilih pasangan calon Wakil Presiden maka dapat 
    menurunkan elektabilitas.

156

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.